Dilarang ngejiplak post by:ADMIN <!--Can't find substitution for tag [blog.PAGEtitle]-->
THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

23 Nov 2010

Pemuda Meurebo Menggalang Teknologi

Kalimat-kalimat di atas adalah kalimat pernah saya dengar dari sejumlah teman yang sedang berbicara soal Pelatihan diikuti oleh 15 orang pemuda-pemudi dari kalangan warga tidak mampu di Meurebo [Dok. Tim P4 Aceh Barat, P4 NAD PNPM Mandiri Perkotaan]komputer. Sekalipun saya ada bersama teman-teman tersebut, saya tidak dapat mengerti arah percakapan tersebut. Alasannya, sederhana saja. Saya tidak mengerti.
Meski demikian, saya tidak menunjukkan ketidaktahuan saya. Saya hanya diam saja. Bingung, malu dan sedih bercampur menjadi satu menyesali ketidaktahuan saya tentang alat yang sudah tersebar kemana-mana, namun saya belum dapat merasakannya, apalagi memahaminya.
Peristiwa itu terjadi kira-kira satu tahun yang lalu. Sekarang, sekalipun saya belum mahir menggunakan komputer, setidaknya saya sudah tidak perlu lagi malu kalau mendengar percakapan teman-teman saya tentang komputer. Jika ada kalimat yang tidak dimengerti, saya tidak segan bertanya kepada mereka, dan teman-teman saya pun tahu bahwa saya sudah dapat mengoperasikan komputer.
Perubahan yang saya alami itu tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui jalan panjang. Awalnya, saya cuma seorang anak muda yang tidak terlalu aktif dalam program yang ada di desa. Setelah saya mengalami dan merasakan manfaatnya secara langsung, kini saya bersyukur dan berterima kasih dengan adanya Program Penguatan Partisipasi Perempuan (P4) yang ada di desa saya.
Melalui program tersebut, dilaksanakan kegiatan yang ditujukan bagi anak-anak muda untuk belajar komputer dalam bentuk kursus singkat selama tiga bulan. Saya adalah salah satu peserta yang mengikuti kursus itu. Terima kasih P4!
“Hari gini, masih gaptek (gagap teknologi—red)!” Begitu istilah modern di kalangan muda saat ini. Dengan kata lain, “malu dong, ketinggalan zaman!” Sekarang, mendengar kalimat ini, saya tidak malu lagi. Begitu juga para pemuda di desa Meurebo, kecamatan Meurebo, yang telah mengikuti pelatihan komputer P4. Kalimat tadi hanya tinggal kenangan dan menjadi pemicu kami untuk menguasai teknologi secara lebih maju lagi.
Pemuda-pemudi gampong Meureubo yang merupakan ibukota kecamatan Meureubo, tak mau dikatakan gaptek. Oleh karena itu untuk peningkatan pengetahuan tentang teknologi mereka berencana mengusulkan diadakannya pelatihan komputer di desa. Usulan itu disampaikan melalui Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Sama Meupakat, desa Meureubo, sehingga menjadi prioritas dalam BLM P4 tahap 1. Pelatihan itu sendiri dilaksanakan oleh KSM Canggih.
[Dok. Tim P4 Aceh Barat, P4 NAD PNPM Mandiri Perkotaan]Berdasar informasi dari fasilitator dan ketua KSM Canggih, dana pelatihan komputer berasal dari BLM tahap 1 P4 sebesar Rp 8 juta. Peserta pelatihan, termasuk saya, berjumlah 15 orang berlangsung selama tiga bulan.
Kami belajar dari komputer dasar (tingkat basic) sampai pada akhirnya kami dapat mengoperasikan komputer dan dapat menjalankan program office. Saat ini saya memang belum bekerja yang sifatnya menetap. Tetapi, dengan semakin berkembangnya kemampuan dalam menambah keterampilan untuk memperkuat daya saing tenaga kerja, saya yakin dapat maju dengan menguasai teknologi, khususnya komputer.
Teman-teman peserta pelatihan lainnya juga mengaku sangat terbantu dengan terselenggaranya pelatihan tersebut. Mereka dapat menerapkan materi yang didapat, dalam kegiatan mereka sendiri, baik bagi yang berstatus pelajar (mahasiswa) maupun yang telah bekerja, bahkan bagi saya yang belum bekerja.
Sungguh ini mimpi yang menjadi kenyataan bagi warga kurang mampu di desa Meureubo. Tidak perlu bersusah-payah mengeluarkan biaya bagi mereka yang ingin menggalang teknologi di era globalisasi ini. Para pemuda ini begitu antusias dan serius selama mengikuti pelatihan. Mengingat, hal ini kelak dapat menjadi modal diri dalam mencari pekerjaan, mengurangi angka pengangguran di desa wilayah, sehingga mampu meningkatkan pendapatan keluarga.
Selain itu, para peserta diharapkan kelak mampu membimbing anak-anak sekolah dalam mengalang teknologi yang sama guna menambah pengetahuan teknologi bagi mereka. Minimnya pengetahuan teknologi bagi warga miskin memang menjadi perhatian khusus. Tentunya, life skill dari program pemerintah semacam ini selayaknya didukung oleh semua pihak. (Hamzah Mustofa, Peserta pelatihan komputer P4 NAD, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

0 komentar:

 
Terima kasih atas kunjungan nya By:ADMIN